Blog

Pengolah Air Laut Tenaga Surya Buatan Anak Indonesia

 

 

Seperti yang kita ketahui, harga garam di Indonesia saat ini mengalami ketidakstabilan. Kadang tinggi beberapa waktu laut, dan sekarang menjadi murah. Hal ini disebabkan beberapa faktor. Ironis sekali padahal negara indonesia 2/3 nya adalah lautan, sehingga jika dipikir melalui logika, Indonesia bisa memproduksi garam yang sangat banyak.

 

Benar adanya, panjang garis pantai bukan faktor utama yang membuat produksi garam otomatis berbanding lurus dengan produksi garam. Setidaknya, ada tiga faktor yang turut memengaruhi produksi garam.

Namun, besarnya lahan pesisir dan jaminan sumber matahari sebagai tenaga alternatif bisa jadi modal utama memenuhi kebutuhan garam. Hal inilah yang kemudian menginspirasi seorang mahasiswa Tanah Air untuk berinovasi membuat alat penghasil garam kualitas industri.

Kebutuhan garam di Indonesia tidak hanya untuk memasak. Ada dua jenis garam yang beredar di pasaran.

Pertama garam konsumsi dengan kadar Natrium klorida (NaCl) minimal sebesar 94 persen. Kedua garam industri, dengan kadar NaCl minimal 97 persen. Garam industri untuk kebutuhan farmasi bahkan mensyaratkan kandungan NaCl sebesar 99 persen.

Kebutuhan garam di Indonesia paling besar adalah untuk industri seperti makanan, minuman, tekstil, farmasi, sabun hingga perminyakan.

Mencoba berinovasi, Mohammad Zainal Abidin, mengembangkan alat yang mengolah air laut menjadi garam. Alat yang diberi nama “Pelita” dioperasikan menggunakan tenaga surya. Pelita merupakan kependekan dari pengolah air laut tenaga surya.

Alat tersebut merupakan hasil penelitian skripsi Zainal untuk menyelesaikan studi S1 pada Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surabaya. Proses penelitian dan perakitan Pelita dilakukan Zainal selama tiga bulan.

Zainal mengaku membuat Pelita karena melihat para petani garam sering gagal panen akibat cuaca tidak menentu. Kemudian ia berpikir untuk membuat inovasi agar air laut bisa diolah menjadi garam meski cuaca tidak menentu. Solusinya dengan menggunakan tenaga surya agar produksi garam tetap terjaga.

Tak hanya mengubah air laut menjadi garam, namun alat yang dibuatnya juga menghasilkan air tawar.

“Saya juga punya teman yang orang tuanya pemandu wisata di daerah pesisir. Dia sering cerita kalau mencari air tawar cukup sulit di daerah pantai. Selain itu petani garam sering gagal panen karena cuaca tidak menentu,” ungkapnya ketika ditanya alasannya membuat Pelita, dikutip dari Surya (4/8).

Ia pun berusaha mencari alternatif sumber energi untuk alat yang harus diletakkan di area tambak garam. Untuk menyiasati sulitnya listrik dan perubahan cuaca di area tambak garam atau pesisir, ia menggunakan panel surya sebagai sumber listrik untuk alat ini.

Mahasiswa asal Bojonegoro tersebut menjelaskan, Pelita terdiri dari sejumlah komponen. Di antaranya, papan panel surya, inverter untuk mengubah tegangan DC ke AC, aki, tangki penampung air, air biasa sebagai pendingin, dan tabung kaca penampung air tawar.

Dia menjelaskan, untuk proses pengelolaan air laut menjadi garam dan air tawar dengan Pelita cukup mudah. Alat lebih dahulu harus dipanaskan di bawah sinar matahari selama minimal empat jam untuk mendapatkan energi dari matahari melalui panel surya.

“Kemudian setelah mengisi energi yang disimpan di aki dan diubah menjadi energi tegangan AC menggunakan inverter untuk energi proses destilasi (untuk memisahkan air laut menjadi garam dan air tawar),” ujar mahasiswa angkatan 2013 tersebut.

Air laut dimasukkan ke dalam tangki penampungan yang terbuat dari bahan baja anti karat. Air laut dalam tangki tersebut dipanaskan menggunakan energi tegangan AC yang sudah disimpan sebelumnya selama satu jam hingga menguap.

Uapnya yang mengalir di pipa didinginkan menggunakan air biasa hingga menjadi air tawar yang menetes ke dalam tabung kaca. Sementara garam akan mengendap di dalam tangki penampungan.

Untuk dapat dikonsumsi, garam tersebut harus diukur terlebih dahulu kadar NaCl-nya. Sedangkan air tawar tersebut sudah sesuai standar air bersih. Jika dimasak, air tersebut layak untuk diminum. Zainal mengambil sampel air laut dari pantai Kenjeran.

“Untuk siang hari selama ada matahari, alatnya menggunakan energi langsung matahari sekaligus menyimpan energi di aki untuk dipakai malam hari. Kapasitas pabel suryanya sebesar 2 x 100 watt pick. Ini kan masih tahap penelitian untuk acuan dalam tahap produksi garam,” ucapnya seperti kutip dari Republika (4/8).

Panel surya ini, kata Zainal akan tetap menghasilkan energi walau cuaca dalam keadaan mendung. Hal itu karena keberadaan aki yang berfungsi menyimpan energi dari matahari.

Ia berharap bisa memberikan manfaat pada petani garam yang sering gagal panen. Untuk kualitas garam yang dihasilkan, Zainal mengaku bahwa hasil garam yang dihasilkan sudah putih, bersih dan lembut sehingga sama seperti garam konsumsi yang dijual pasaran, sehingga saat dilempar ke pasar harganya boleh jadi tinggi.

“Penelitian saya menggunakan 200cc air laut selama satu jam menjadi air tawar 180cc dan garam 10 gram. Kelebihannya, garam sudah bersih dan halus tapi belum beriodium,” jelasnya.

Sementara mengenai masalah berapa skala produksi yang berhasil dihasilkan, Zainal mengatakan saat ini masih dalam tahap penelitian untuk mengetahui berapa liter daya tampung Pelita dalam mengelola air laut.

“Ini masih tahap penelitian, kalau ada yang berminat mungkin bisa membantu untuk pengembangannya agar bisa diketahui skala produksi yang bisa dihasilkan alat ini,” pungkas Zainal.

 

 

Source : beritagar.id

Leave a comment